Tampilkan postingan dengan label Catatan Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Belajar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2015

Stasiun Penyiaran




A.          Pengertian Stasiun Penyiaran
Penyiaran adalah keseluruhan proses penyampaian siaran yang dimulai dari penyiapan materi produksi, proses produksi,  penyiapan bahan siaran, kemudian pemancaran sampai kepada penerimaan siaran tersebut oleh pendengar/ pemirsa disuatu tempat. Istilah “stasiun penyiaran” muncul ketika undang-undang pasal 31 menjelaskan bahwa “lembaga penyiaran yang menyelenggarakan jasa penyiaran radio atau jasa penyiaran televisi terdiri atas stasiun penyiaran jaringan dan atau stasiun penyiaran lokal”. Unsur-unsur stasiun penyiaran yang meliputi : kepemilikan, perizinan, fungsi, kegiatan, dan sebagainya.
Terdapat lima syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk dapat terjadinya penyiaran. Kelima syarat tersebut adalah :
1.             Spektrum frekuensi radio
2.             Sarana pemancaran/transmisi
3.             Adanya siaran (program atau acara)
4.             Adanya perangkat penerima siaran (receiver)
5.             Dapat diterima secara serentak/bersamaan
Oleh karena itu yang termasuk dalam media penyiaran tentunya adalah medi televisi dan media radio atau hanya media yang bersifat elektronik saja.

B.          Lembaga-Lembaga Penyiaran
Dalam UU RI No. 32 tahun 2002, pada pasal 13 ayat 2 ditegaskan bahwa jasa penyiaran diselenggarakan oleh :

1.           Penyiaran Publik
Secara khusus, publik dalam istilah penyiaran publik diposisikan dalam dua pengertian, yakni sebagai khalayak (pemirsa atau pendengar) dan sebagai partisipan yang aktif. Pemahaman ini terkait dengan kebebasan menyatakan pendapat, hak untuk mendapatkan informasi, serta upaya pemberdayaan masyarakat dalam proses menuju civil society. Sementara mengenai syarat penyiaran publik (public service broadcasting), diantaranya adalah media  yang: 1) tersedia (available) secara “general-geographis”, 2) memiliki concern terhadap identitas dan kultur nasional, 3) bersifat independen, baik dari kepentingan negara maupun kepentingan komersil, 4) memiliki imparsialitas program, 5) memiliki ragam variasi program, dan 6) pembiayaannya dibebankan kepada pengguna media. Definisi tersebut mengandaikan bahwa penyiaran publik dibangun didasarkan pada kepentingan, aspirasi, gagasan publik yang dibuat berdasarkan swadaya dan swamandiri dari masyarakat atau publik pengguna dan pemetik manfaat penyiaran publik. Oleh karena itu, ketika penyiaran publik dibangun bersama atas partisipasi publik, maka fungsi dan nilai kegunaan penyiaran publik tentunya ditujukan bagi berbagai kepentingan dan aspirasi publik.
Secara filosofis, urgensi kehadiran media penyiaran publik berangkat dari kehidupan publik yang dilihat dari posisi sebagai warga masyarakat hanya dalam dua ranah, yaitu dalam lingkup kekuasaan dan lingkup pasar. Padahal, masyarakat memiliki ruang tersendiri untuk berapresiasi, berkarya, berpendapat, dan bersikap terhadap realitas yang ada di sekelilingnya. Oleh karena itu, munculnya pandangan dikotomis yang mengabaikan peran dan posisi warga negara dalam konteks hubungan sosial dan bernegara telah mengabaikan adanya kenyataan tentang ranah publik yang diharapkan dapat menjadi zona bebas dan netral yang di dalamnya berlangsung dinamika kehidupan yang bersih dari kekuasaan dan pasar. Habermas menyebut ranah ini sebagai ranah publik atau public sphere.
Secara garis besar, ada empat alasan mengapa lembaga penyiaran publik itu penting dalam sistem demokrasi. Pertama, dalam konteks kehidupan demokrasi dan penguatan masyarakat sipil, sejatinya, publik berhak mendapatkan siaran yang lebih mencerdaskan, lebih mengisi kepala dengan sesuatu yang lebih bermakna dibandingkan sekedar menjual kepala kepada pemasang iklan melalui logika rating.
Kedua, warga berhak memperoleh siaran yang mencerdaskan tanpa adanya batasan geografis, lebih-lebih sosio-politis. Argumen kedua ini penting karena lembaga penyiaran swasta akan selalu berfikir dalam kerangka besaran jumlah penduduk dan potensi ekonomi untuk membuka jaringannya. Akibatnya, daerah-daerah yang miskin dan secara ekonomi tidak menguntungkan tidak akan mendapatkan layanan siaran swasta.
Ketiga, penyiaran publik merupakan entitas penyiaran yang memiliki concern lebih terhadap identitas dan kultur nasional. Jika lembaga penyiaran swasta acapkali dituduh menjadi bagian dari apa yang sering disebut sebagai imperalisme budaya, maka lembaga penyiaran publik justru sebaliknya. Keberadaan lembaga penyiaran publik penting dalam rangka menjaga identitas dan kultur nasional yang bersifat dinamis.
Keempat, demokrasi media niscaya memerlukan lembaga penyiaran yang bersifat independent, baik dilihat dari kepentingan negara maupun komersial. Hal ini penting digarisbawahi karena lembaga penyiaran yang dikontrol negara akan cenderung menjadi ideological state aparatus, sedangkan lembaga penyiaran yang dikontrol swasta akan mengakibatkan penggunaan logic of acumulation and exclusion sebagai penentu apa dan bagaimana sesuatu ditayangkan. Sebagaimana nanti dapat dilihat dalam pembahasan bab selanjutnya, dominasi lembaga penyiaran swasta telah membuat hanya kelompok masyarakat tertentu yang direpresentasikan dalam media penyiaran nasional. Demikian juga dengan tayangan yang hanya memenuhi keinginan pasar dibandingkan dilandasi oleh usaha yang sungguh-sungguh untuk turut serta, katakanlah, mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Jumat, 28 November 2014

Presepsi



A. Pengertian Presepsi 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI), Persepsi diartikan sebagai suatu tanggapan(penerimaan) langsung dari sesuatu. Sedangkan istilah persepsi biasanya digunakan untuk mengungkapkan tentang pengalaman terhadap suatu benda ataupun sesuatu kejadian yang dialami. Berikut ini adalah beberapa definisi Persepsi menurut para ahli :
1. John R. Wenburg & William W. Wilmot
Persepsi dapat didefinisikan sebagai cara organisme memberi makna.
2. Rudolph F. Ferderber
Persepsi adalah proses menafsirkan informasi duniawi.
3. J.Cohen
Persepsi adalah interpretasi bermakna atas sensasi sebagai representative objek eksternal; Persepsi adalah pengetahuan yang tampak mengenai apa yang ada diluar sana.

Persepsi adalah inti komunikasi, sedangkan penafsiran ( interpretasi ) adalah inti dari persepsi itu sendiri, yang identik dengan penyandian balik(decoding). Persepsi juga mencakup penginderaan(sensasi) melalui alat-alat/panca indra(mata,hidung,telinga,kulit,dan lidah), atensi, dan interpretasi. Ahli lain mengemukakan unsure-unsur persepsi adalah seleksi,organisasi,dan interpretasi.

Sensasi merujuk pada pesan yang dikirimkan ke otak melalui alat-alat panca indera manusia. Panca indera berfungsi sebagai reseptor yang akan menghubungkan antara otak manusia dengan lingkungan sekitar.

Atensi (perhatian) berarti sebelum sebelum manusia merespon atau menafsirkan objek atau kejadian atau rangsangan apapun, manusia terlebih dahulu harus memperhatikan kejadian atau rangsangan tersebut. Biasanya, rangsangan yang menarik perhatian cenderung dianggap lebih pending daripada yang tidak menarik perhatian, dengan kata lain kita akan memperhatikan apa yang kita anggap bermakna bagi kita terlebih dahulu.

Interpretasi adalah tahap terpenting dari persepsi, yaitu menafsirkan atau memberi makna atas informasi yang sampai kepada kita melalui panca indera.


B. Jenis-Jenis Presepsi 


1.     Persepsi Lingkungan Fisik
Persepsi orang terhadap lingkungan fisik tidaklah sama, dalam arti berbeda-beda, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
- Latar belakang pengalaman
- Latar belakang budaya
- Latar belakang psikologis
- Latar belakang nilai, keyakinan, dan harapan.

2.     Persepsi Sosial
Persepsi sosial atau persepsi orang terhadap orang lain adalah proses menangkap arti objek- objek social dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita.Persepsi anda akan mempengaruhi persepsi saya atau persepsi orang lain terhadap diri anda, dan begitu juga sebaliknya. 



C. Sifat-Sifat Presepsi 


1.  Persepsi Berdasarkan Pengalaman
Perilaku manusia didasarkan pada persepsi mereka mengenai realitas social yang telah mereka pelajari. Persepsi manusia terhadap seseorang,objek,atau kejadian, atau bahkan terhadap reaksi mereka terhadap hal-hal tersebut didasarkan pada pengalaman masa lalu mereka berkaitan dengan orang,objek,atau kejadian serupa. Ketiadaan pengalaman terdahulu dalam menghadapi suatu objek akan membuat seseorang menafsirkan objek tersebut hanya berdasarkan dugaan semata, atau pengalaman yang mirip.


2.  Persepsi Bersifat Sekektif
Pada dasarnya melalui indera kita, setiap saat diri kita ini dirangsang dengan berjuta rangsangan. Jika kita harus memberikan tafsiran atas semua rangsangan itu, maka kita ini bisa menjadi gila. Karena itu, kita dituntut untuk mengatasi kerumitan tersebut dengan memperhatikan hal-hal yang menarik bagi kita. Atensi kita pada dasarnya merupakan faktor utama dalam menentukan seleksi atas rangsangan yang masuk ke dalam diri kita.


3.  Persepsi Bersifat Dugaan
Karena pada dasarnya data yang kita peroleh melalui penginderaan tidak pernah lengkap, maka seringkali persepsi merupakan proses pemikiran yang langsung meloncat pada kesimpulan. Proses Persepsi yang berupa dugaan ini memungkinkan kita menafsirkan suatu objek dengan makna yang lebih lengkap dari sudut pandang manapun.


4.  Persepsi Bersifat Evaluative
Tidak sedikit orang beranggapan bahwa apa yang mereka persepsikan sebagai sesuatu yang nyata. Artinya, perasaan seseorang sering mempengaruhi persepsinya, padahal hal tersebut bukanlah sesuatu yang objektif. Kita melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman masa lalu dan kepentingan subjektif kita sendiri. Karena itu persepsi bersifat evaluatif; merupakan proses kognitif yang mencerminkan sikap, kepercayaan, nilai dan pengharapan dengan memaknai objek persepsi itu sendiri.


5.  Persepsi Bersifat Kontekstual
Suatu rangsangan dari luar harus diorganisir dalam diri manusia. Dari berbagai pengaruh yang ada dalam persepsi kita, konteks merupakan pengaruh yang paling kuat. Konteks yang mengitari kita ketika melihat seseorang, objek, atau bahkan suatu peristiwa sangat mempengaruhi struktur kognitif, dan juga ekspektasi kita dan oleh karena itu juga akan mempengatuhi persepsi kita.


D. Faktor Yang Mempengaruhi Presepsi 

1. Faktor Internal
Faktor internal yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu, yang mencakup beberapa hal antara lain :

A.      Fisiologis. Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.

B.      Perhatian. Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu obyek. Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.

C.      Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.

D.     Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.

E.      Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas.

F.       Suasana hati. Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat.


2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari lingkungan dan obyek-obyek yang terlibat didalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseoarang merasakannya atau menerimanya. Sementara itu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah :

A.    Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus. Faktor ini menyatakan bahwa semakin besrnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.

B.    Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang sedikit.

C.     Keunikan dan kekontrasan stimulus. Stimulus luar yang penampilannya dengan latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang lain akan banyak menarik perhatian.

D.    Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus dari luar akan memberi makna lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.

E.     Motion atau gerakan. Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang diam.



Sumber :
Buku Ilmu Komunikas Drs, Riswandi & Drs. Deddy Mulyana

Selasa, 19 Agustus 2014

Perjuangan Pembebasan Irian Barat

1. Upaya-Upaya Perjuangan Pembebasan Irian Barat

Dalam Koferensi Meja Bundar pada 1949, menyatakan bahwa Irian Barat akan dikembalikan oleh Belanda kepada Indonesia paling lambat 1 tahun. Namun, Belanda tidak menepati janjinya. Oleh karena itu, pemerintah mencantumkan program untuk mengembalikan wilayah Irian Barat kewilayah RI.
A.  Perjuangan Diplomasi
·        Pada 1950-1953 pemerintah RI dan Belanda mengadakan perundingan secara bilateral dalam ikatan Uni Indonesia-Belanda. Namun upaya ini tidak berhasil.
·        Pada 1955 pemerintah RI berupaya memasukan masalah Irian Barat dalam agenda pembicaraan Koferensi Asia-Afrika di Bandung. Upaya ini berhasil sehingga Indonesia mendapat dukungan politik dari negara peserta Koferensi Asia-Afrika.
·        Pemerintah RI berupaya memasukan maslah Irian Barat dalam agenda sidang Dewan Keamanan dan Sidang Umum PBB. Namunupaya ini digagalkan Belanda.
·        Pada 1954 pemerintah RI membatalkan secara sepihak kerja sama Uni Indonesia-Belanda.
·        Pemerintah RI memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda yang diumumkan melalui pidato Presiden Soekarno yang berjudul Jalannya Revolusi Kita Bagaikan Malaikat Turun dari Langit di halaman Istana Negara pada hari ulang tahun RI tahun 1960.
·        Pada 30 September 1960 Presiden Soekarno menyampaikan maslah Irian Barat dalam pidatonya yang berjudul To Built the Worl Anew didepan Majelis Umum PBB.
B.  Konfrontasi Ekonomi
·        Pada 18 November 1957 diadakan rapat umum pembebasan Irian Barat di Jakarta.
·        Mulai 2 Desember 1957 diadakan aksi pemogokan total buruh yang bekerja di perusahaan Belanda.
·        Pada 2 Desember 1957 pemerintah melarang beredarnya film yang menggunakan bahasa Belanda. Begitu juga dengan penerbangan Belanda, dilarang mendarat dan terbang diatas wilayah Indonesia.
·        Pada 5 Desember 1957 pemerintah meminta semua kegiatan perwakilan konsuler Belanda di Indonesia dihentikan.
·        Buruh melakukan aksi pengambilalihan perusahaan milik Belanda tempat mereka bekerja, seperti Nederlandsche Handel Maatschappij N.V, Bank Escompto, Percetakan De Unie, Philips dan KLM.
C.   Tri Komando Rakyat (TRIKORA)
Pemerintah RI merencanakan operasi militer untuk merebut Irian Barat. Untuk merealisasikan rencana tersebut pada 4 Maret 1961 pemerintah RI menandatangani pembelian senjata dari Uni Soviet atas dasar kredit jangka panjang. Sementara itu, pada April 1961 Belanda membentuk Dewan Papua tanpa sepengetahuan PBB. Belanda juga mengirim kapal Induk Karel Doorman pada Agustus 1961 untuk memperkuat angkatan Laut dan Udara Irian Barat.
Hal tersebut membuat Presiden Soekarno mengeluarkan Komando pada 19 Desember 1961 pada rapat besar di Yogyakarta yang dikenal sebagai Tri Komando Rakyat (Trikora), yang berisikan :
·        Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda
·        Kibarkan sang Merah Putih di Irian Barat
·        Mobilisasi umum untuk mempertahankan kemerdekaan dan Kesatuan Tanah Air
Untuk melaksanakan operasi militer Trikora, pada 2 Januari 1961 Presiden membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dengan Mayjen Soeharto sebagai panglimanya dengan tugas :
·        Mrencanakan, mempersiapkan dan menyelenggarakan operasi militer dengan tujuan menembalikan wilayah Irian Barat ke NKRI
·        Mengembangkan situasi militer di Provinsi Irian Barat
ü Sesuai taraf perjuangan diplomasi
ü Irian Barat dapat secara “de facto”
Dalam pelaksanaannya, Komando Mandala merencanakan 3 fase, yaitu Infiltrasi/penyusupan, ekploitasi/serangan terbuka dan konsolidasi/menegakan kekuasaan RI secara mutlak.
Pada Maret sampai Agustus 1961 Komando Mandala melaksanakan opresi Benteng di Fak-Fak dan Kaimana, Operasi Srigala di Sorong dan Teminabuan, Operasi Naga di Marauke dan Operasi Jatayu di Sorong, Teminabuan serta Marauke. Lalu Operasi Jayawijaya sebagai serangan terbuka. Namun, markas besae PBB di New York belum dapat persetujuan untuk melaksanakan Operasi Jayawijaya. Lalu persetujuan beisikan :
ü PBB United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) tiba di Irian Barat pada 1 Oktober 1961, bendera Belanda pun diganti dengan bendera PBB.
ü Warga sipil dijadikan alat keamanan oleh Pemerintah Sementara PBB.
ü Pasukan Indonesai yang berada di Irian Barat berada dibawah Pemerintah Sementara PBB.
ü Angkatan Perang Belanda kembali. Sedangkan yang belum pulang tidak boleh dipakai untuk operasi militer.
ü Berlakunya lalu lintas bebas.
ü Bendera Indonesia berkibar disamping Bendera PBB pada 31 Desember 1962.
ü Pemerintah RI secara resmi menerima pemerintahan di Irian Barat dari Pemerintah Sementara PBB pada 1 Mei 1963
Perjanjian New York juga mewajibkan Indonesia untuk mengadakan “act of free choice” atau Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) sebelum 1969.
Pasukan Keamanan PBB  yang dinamakan United Nations Security Forces (UNSF) dibentuk untuk menjamin keamanan di wilayah Irian Barat dengan Bridgen Said Uddin Khan dari Pakistan sebagai pemimpinnya.

2. Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA)
3 tahap Pepera :
a.   Konsultasi dengan Dewan Kbupaten di Jayapura mengenai cara menyelenggarakan Pepera pada 24 Maret 1969
b.   Pada Juni 1969 Memilih anggota Dewan Musyawarah Pepera
c.   Melaksanakan Pepeea pada 14 Juli 1969 di Marauke yang berakhir pada 4 Agustus 1969 di Jayapura. Dewan Musyawarah Pepera memutuskan bahwa Irian Barat merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kemudian disahkan secara resmi oleh PBB pada 19 November 1969.


Referensi : Buku Sejarah Drs. Nana Supriatna, M.Ed.

Kamis, 21 November 2013

Penyiar

Kemampuan Dasar yang harus dimiliki Penyiar :
1.    Kemampuan vocal
·        Memiliki kualitas vocal yang bagus, bulat dan tidak pecah.
·        Memiliki artikulasi yang jelas.
·        Bisa berekspresi melalui suara.
·        Bisa memainkan intonasi suara.
·        Bisa mengatur ketepatan bicara.
·        Memiliki kemampuan verbal yang cukup.
2.   Kemampuan personal
·        Suka berbicara dan bisa mejadi pendengar yang baik jika berhadapan dengan narasumber ketika wawancara.
·        Memiliki spontanitas yang baik.
·        Memiliki kepekaan terhadap situasi.
·        Mampu menjaga emosi, terutama saat siaran.
·        Percaya diri ketika bicara/siaran.
·        Memiliki rasa ingin tau.
·        Mampu berkonsentrasi.
·        Memiliki rasa humor.

Tips Memaksimalkan Performance Penyiar
Penyiar tidak boleh berhenti mengembangkan diri. Jika merka lalai sedikit saja, karir mereka akan terhenti. Karena selain harus bersaing merebut pendengar, penyiar radio juga harus berlomba dengan waktu. Penyiar yang tidak melakukan pengembangan diri akan menjadi penyiar yang out of date, basi, yang akhirnya ditinggal pendengar.
Hal yang bisa dilakukan agar performa seorang penyiar semakin berkembang adalah :
1.    Jangan berhenti meningkan kemampuan umum
Meningkatkan kemampuan umum dapat dilakukan dengan mambaca dan melihat. Mulai dari buku, film, internet atau apapun yang ada disekitar. Harus diingat, bahwa dimata pendengar, penyiar radio tau segalanya.
2.   Tidak ketinggalan informasi
Seorang penyiar radio harus selalu update dengan apa yang saat ini trejadi. Cari dari segala macam sumber informasi dan berita. Apapun yang aktual, yang sedang ramai dibicarakan, yang sedang trend, apapun!
3.   Memiliki pergaulan yang luas
Dengan pergaulan yang luas, akan semakin banyak yang diserap dan dipelajari. Perbanyak teman, perluas jaringan, baik dari kalangan narasumber, target, audience, siapapun!
4.   Memahami apa yang disuka dan tidak disuka pendengar
Jika dianalogikan dalam dunia bisnis, penyiar adalah produsen dan pendengar adalah konsumen. Sedangkan produk yng ditawarkan adalah personality penyiar dan show yang dibawakan dalam siaran. Agar laku, penyiar harus tau apa yang disukai dan tidak disukai pendengar. Untuk itu, lakukan survei, dan amati apa yang saat ini disukai pendengar.
5.   Mengenal industri radio secara umum.
Know what you do, bagaimana kita bisa berharap mendapatkan hasil yang maksimal jika kita tidak memahami apa yang kita kerjakan. Semakin kita mengenal industri tempat kita bekarja, kita akan semakin memahami celah dan peluang untuk maju. Caranya udah, banyak tanya dan belajar!
Selain kelima cara diatas, penyiar yang baik juga harus bisa siaran denga gaya siaran yang menjadi ciri khas radionya dan mengenal karakter pendengarnya. Serta harus patuh dan menjalankan aturan yang sudah ditetapkan management.

Meningkatkan Jumlah Pendengar Berdasarkan Hasil Survei
1.    Menyajikan konten yang terbaik dan menarik. Baik lagu, informasi maupun program siaran yang menarik.
2.   Berikan sesuatu yang baru secara rutin, lagu, acara ataupun berita.
3.   Usahakan untuk membarikan kejutan, sesuatu yang tidak terduga, yang tidak biasa kepada pendengar sesering mungkin.
4.   Jadilah teman bagi pendengar secara personal, bukan masal.
5.   Pendengar ingin mengetahui keadian apa yang sedang terjadi saat ini, untuk itu diperluakan adanya penyiar yang secara langsung bisa menyampaikan informasi aktual kepada pendengar.
6.   Jangan buat pendengar bosan dengan basa-basi kita.



Referensi : radioclinic.com